Poultryindonesia.com, Tips. Untuk mendapatkan unggas dengan kualitas yang baik, interaksi antara farm, kesehatan ayam, nutrisi dan lingkungan harus diatur sedemikian rupa terutama di daerah beriklim panas dan lembab. Pengelolaan peternakan ayam secara intensif dan konstan yang mampu memberikan hasil maximal dan dicapai dengan biaya minimum bukanlah suatu hal yang gampang. Pemeliharaan ayam pada flok yang baik pada kondisi tropik bukanlah suatu hal yang mustahil, tetapi prosedur yang digunakan harus dibedakan dari prosedur yang digunakan bagi daerah beriklim dingin.
Tindakan yang dilakukan sehari-hari tergantung pada desain dari farm dan fasilitas yang ada, sebab ada interaksi yang besar antara bangunan kandang dan lingkungan.Manajemen yang diterapkan pada iklim tropik bertujuan untuk mengurangi temperatur dan kelembaban kandang, memelihara keseimbangan uptake air minum dan meningkatkan intake pakan sehingga tercipta suasana nyaman bagi ternak.
Dengan demikian diharapkan pertumbuhan ayam menjadi optimal. Temperatur ideal pada unggas adalah 20-25 C dan unggas dapat melakukan adaptasi terhadap variasi temperatur tersebut. Temperatur yang lebih tinggi dari 32 C dapat menyebabkan stress dan kelembaban yang tinggi dapat memperburuk efek dari stress. Menurut Rochman Naim (1992), pengaruh temperatur pada unggas dapat berdampak antara lain :
Pada kondisi tubuh unggas
Temperatur yang meningkat dapat menimbulkan perubahan yang nyata pada laju pernafasan, juga denyut jantung sehingga aliran darah meningkat. Aliran darah meningkat ke bagian atas dari saluran respirasi dan otot-otot abdominal, tetapi menurun ke organ hati. ginjal dan saluran cerna. Panas tubuh yang meningkat ini akan dibuang melalui permukaan kulit dan berubah menjadi panas lingkungan.
Proses penguapan panas dari tubuh unggas yang terjadi, berhubungan erat dengan temperatur atau kelembaban lingkungan. Kelembaban yang tinggi akan mempercepat omset dari panas yang menimbulkan stress dan akan terjadi penurunan kadar vitamin C dalam plasma dan korteks adrenal. Selain itu juga menyebabkan penurunan jumlah limfosit dan akan menekan respon kekebalan. Hasil akhir dari semua perubahan tersebut pada kondisi panas adalah tubuh bekerja keras, digesti kurang efektif bekerja sebab aliran darah berkurang dan respon kekebalan menurun.
Pada kebutuhan nutrisi
Pada temperatur di atas 25 C kebutuhan ayam terhadap energi akan meningkat, karena aktivitas tubuh meningkat. Tetapi dengan meningkatnya temperatur intake unggas terhadap pakan akan menurun, sehingga manajemen dan kebutuhan terhadap nutrisi harus digunakan untuk menjamin intake pakan yang cukup untuk memelihara produksi. Kebutuhan protein tidak mengalami variasi yang besar tetapi kebutuhan terhadap intake air akan meningkat secara nyata, karena air dalam jumlah yang cukup penting bagi ayam untuk dapat hidup dan berproduksi secara normal. Air berfungsi sebagai pelumas sendi, memperlancar jalan makanan dalam usus, membantu proses pencernaan, penyerapan dan pengangkutan sari makanan dan zat gizi.
Selain itu juga mengangkut sisa metabolisme keluar tubuh, membantu proses pernafasan, reproduksi dan untuk mengeluarkan kelebihan panas dari tubuh ayam. Temparatur air yang disukai unggas berkisar 10-12 C.
Temperatur lebih dari 30 C konsumsi air menurun dan temperatur lebih dari 44 C tidak dikonsumsi oleh unggas. Oleh karena itu, kita harus selalu mengontrol konsumsi air setiap hari pada cuaca panas. Kebutuhan ayam muda terhadap air lebih banyak daripada yang dewasa. Ayam yang kekurangan air minum biasanya nafsu makannya turun, demikian juga produktivitas dan efisiensi penggunaan ransumnya.
Penurunan produktivitas pada petelur biasanya ditunjukkan dengan penurunan produksi telur, kulit telur tipis atau bahkan tidak berbentuk. Ayam yang menderita kekurangan air secara drastis akan turun suhu tubuhnya dan dapat terjadi kematian.
Menurut Rochman ada beberapa nutrien spesifik lain yang penting pada cuaca panas, meliputi beberapa vitamin antara lain, Vitamin C, E, K, B dan D. Keuntungan suplementasi vitamin C pada suasana panas yaitu dapat mengurangi kematian akibat temperatur stress/heat stress, memperbaiki produksi telur dan daya tetas telur.
Konsumsi vitamin E sebanyak 50 ppm dapat mengurangi kematian akibat heat stress, sedang pada ayam broiler dan level >100 ppm dapat meningkatkan resistensi ayam terhadap penyakit.
Salah satu pengaruh dari heat stress adalah perpanjangan waktu pembekuan darah. Keadaan ini dapat diantisipasi dengan penambahan konsumsi vitamin K. Suplementasi vitamin ini penting terutama pada saat potong paruh dan untuk ayam yang terserang koksidiosis. Suplementasi vitamin B1/Biotin dalam cuaca panas, dapat meningkatkan laju pertumbuhan. Level yang dianjurkan adalah 120-150 g/kg pakan.
Sedangkan vitamin B2/Riboflavin : pada level <5 mg/kg pakan pada cuaca panas dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan produksi telur. Agar daya tetas optimal dapat diberikan 6 sampai 8 mg/kg pakan. Pada kondisi panas dan lembab, pakan sering berjamur hingga dapat menyebabkan fungal enteritis atau munculnya mycotoxin. Kejadian ini dapat meningkatkan kebutuhan vitamin D pada unggas.
Pada produksi
Temparatur yang tinggi dapat menimbulkan stress. Dampak dari stress ini telah banyak kita ketahui dengan baik, antara lain : mengurangi feed intake, menurunkan laju pertumbuhan, meningkatkan FCR, mengurangi produksi telur, mengurangi fertilitas, meningkatkan kepekaan terhadap penyakit, meningkatkan kenibalisme, menurunkan berat badan dan meningkatkan mortalitas.
Dari uraian diatas, terlihat batapa peranan temperatur sangat menentukan produktifitas unggas. Meskipun kita tinggal di daerah tropik yang cukup panas, dengan pengelolaan yang benar dan manajemen yang tepat sesuai kondisi, peternakan kita tentu dapat berproduksi maximal.
PI/dw
Silakan mengutip dan atau meng-copy tulisan ini dengan menyebut sumbernya:www.poultryindonesia.com